Cooperation - Republic of Indonesia and Federal Republic of Germany

Latar Belakang

Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan menyelimuti kedua wilayah tersebut dengan kabut dan menimbulkan ancaman nyata bagi kesehatan manusia. Selain itu, kebakaran hutan juga berkontribusi nyata terhadap hilangnya keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh deforestasi dan perubahan penggunaan lahan. Terutama kebakaran lahan gambut sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat di kedua provinsi tersebut dan negara-negara tetangga dan merupakan sumber terbesar emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara yang berjuang melawan seringnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan kebakaran. Di Afrika Selatan, kebakaran hutan merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun selama dua musim kemarau.

Afrika Selatan mengembangkan sistem yang sangat profesional untuk pengelolaan api terintegrasi (Integrated Fire Management - IFM), berpusat di program Working on Fire (WOF). WOF adalah program yang didanai pemerintah, melalui Expanded Public Works Programme (EPWP) yang merekrut dan melatih pemuda dan pemudi dari masyarakat setempat. Anggota masyarakat dipekerjakan dan dilatih untuk membentuk pasukan pemadam kebakaran lahan dengan menerapkan IFM.

Meskipun ekosistem di Afrika Selatan dan Indonesia sangat berbeda, aspek-aspek tertentu dari Program WOF mungkin dapat ditransfer ke dalam konteks Indonesia dan belajar dari sistem manajemen api terintegrasi Afrika Selatan yang sangat canggih untuk dapat mendukung pengembangan inisiatif pengelolaan kebakaran dan keberhasilan pengelolaan kebakaran di Indonesia.

Ringkasan

Pertukaran tenaga ahli pengelolaan kebakaran lahan dan hutan, termasuk kesiapan menangani api, pencegahan dan penanganannya antara Indonesia dan Afrika Selatan telah dilaksanakan pada tanggal 21 sampai dengan 28 Agustus 2016. Kegiatan ini diselenggarakan bersama antara FORCLIME dan UNOPS/GAMBUT. Delegasi Indonesia menghadiri pemaparan dan mengunjungi WOF, asosiasi perlindungan api (Fire Protection Associations - FPAs), masyarakat peduli api (FireWise communities), isntalasi Firehawk dan pusat pelatihan Kishugu di Pietermaritzburg, Nelspruit dan kawasan taman Kruger.
Tujuan dari pertukaran ini adalah untuk memberi para pihak Indonesia, di tingkat nasional dan provinsi, dengan informasi langsung termasuk pengalaman dalam menerapkan sistem pengelolaan api (IFM) yang diterapkan di Afrika Selatan. Dalam kunjungan ini juga dipelajari kemungkinan sinergi skema kemitraan pemerintah-swasta (Public Private Partnerships), penyusunan peraturan, pembiayaan IFM dan pengembangan Fire Protection Associations (FPA) pada tingkat Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Tujuan

Tujuan dari pertukaran teknis ini adalah untuk memberikan informasi secara langsung dan penjabaran mengenai pengalaman program WOF di Afrika Selatan kepada para pihak Indonesia yang berasal dari tingkat nasional dan provinsi. Selain itu, untuk mendorong diskusi tentang aspek-aspek yang dapat diterapka/ditranser dari model WOF ke dalam konteks Indonesia. Kegiatan seperti ini dapat mengarahkan pada pembentukan kemitraan bantuan teknis antara WOF dan mitra Indonesia - kemitraan yang memberikan kontribusi nyata terhadap perbaikan sistem manajemen api di Indonesia.

Pengalaman hasil kunjungan terkait dengan model WoF

Pertama, program WOF memberikan masukan dan rekomendasi yang berharga untuk reformasi perekrutan dan pelatihan pemadam kebakaran hutan Indonesia. Seperti ditunjukkan di atas, untuk mememperoleh tenaga pemadam kebakaran hutan yang memadai di Sumatera dan Kalimantan, ribuan orang harus direkrut dan dilatih di tahun-tahun mendatang. Peserta mengamati bahwa program WOF awalnya dimulai sebagai penciptaan lapangan kerja dan kegiatan sosial yang kemudian dikontrakkan kepada perusahaan swasta (KISHUGU) untuk pelaksanaan dan pengelolaannya. Selain itu, peserta juga sepaham akan pentingnya penelitian mengenai pengelolaan kebakaran dan tindakan terhadap lingkungan yang terkena dampak.

Kedua, program WOF menunjukkan bahwa manajemen kebakaran dapat dikombinasikan dengan upaya pengembangan sosial – tidak hanya di antara para pemadam kebakaran, tetapi juga dengan masyarakat dari mana mereka direkrut. Di satu sisi, pemadam kebakaran hutan Indonesia bisa menjadi pendukung untuk penyadaran akan resiko kebakaran di kalangan komunitas mereka. Selama bukan musim kebakaran hutan, mereka dapat melaksanakan pencegahan kebakaran dan menyusun strategi mitigasi serta membantu masyarakat lokal untuk lebih memahami risiko kebakaran, memberikan keterampilan dasar dalam merespon api dan membuat mereka menyadari manfaat berkelanjutan lingkungan mereka. Para peserta benar-benar dimulai pada peningkatan komunikasi di antara pemangku kepentingan manajemen kebakaran, baik itu sektor swasta atau lembaga pemerintah.

Ketiga, mekanisme pendanaan WOF mungkin dapat ditiru untuk konteks Indonesia. WOF didanai baik oleh pemerintah dan oleh kontribusi dari pemilik tanah swasta (konsesi kehutanan, pertanian dan peternakan) melalui apa yang disebut Asosiasi Perlindungan Api (FPA). Sementara keanggotaan dalam asosiasi ini adalah wajib bagi pemilik lahan publik dan sukarela untuk pemilik tanah swasta, yang didorong untuk berpartisipasi dalam FPAs melalui insentif hukum, sehingga membuat mereka menjadi sumber utama pendanaan untuk pelaksanaan sistem IFM. Lebih tepatnya, pemilik tanah Afrika Selatan menghadapi tugas yang mengikat untuk pencegahan dan penanganan api. Dengan demikian, mereka juga bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh api yang muncul atau menyebar dari lahan mereka, kecuali orang yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa ia tidak lalai (praduga kelalaian). Di sini peserta diperkenalkan pada aspek penegakan hukum dan undang-undang yang mendasari IFM. Namun, anggapan kelalaian tidak berlaku untuk anggota FPA. Model FPA sangat relevan untuk dikombinasikan dengan pengembangan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang saat ini sedang dilaksanakan di Indonesia. Pertemuan tindak lanjut direncanakan akan dilakukan dengan Pengusaha Hutan Indonesia (APHI).

Keempat, saat ini manajemen kebakaran di Indonesia terutama fokus pada pemadaman kebakaran. Namun kegiatan supresi hanya salah satu dari banyak komponen IFM. Model WOF mengenai penyadaran masyarakat mungkin dilakukan untuk konteks Indonesia. Selain itu, pelibatan pemuda setempat dalam upaya pemadaman kebakaran, WOF telah mengembangkan program Komunitas Firewise yang dapat dimplementasikan di masyarakat pedesaan dan masyarakat yang tergantung hutan sebagai mata pencaharian mereka. Penyadartahuan dan pendidikan model seperti ini dapat mendukung program penyadartahuan berbasis masyarakat yang dikoordinasikan secara nasional untuk menjangkau dan melibatkan semua lapisan masyarakat Indonesia dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan sebelum terjadi. Hal ini sangat relevan di Indonesia di mana berbagai instansi dan perusahaan telah melakukan berbagai program kesadaran masyarakat dan sering menimbulkan pesan yang bertentangan kepada masyarakat. Oleh karena kesamaan kondisi sosial-ekonomi di masyarakat, program WOF Firewise memberikan konsep yang efektif untuk integrasi dan kolaborasi dengan masyarakat dalam sistem IFM.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Tobias Goedde, Manajer bidang strategis, Pengelolaan Hutan Lestari

Berita

Kumpulan berita...

Acara Mendatang

5 June 2017 World Environment Day

In order to motivate people to become active agents of sustainable and equitable development; promote the fundamental role of communities in changing attitudes towards environmental issues, and to promote cooperation for environmentally...

Selengkapnya...


September 19th – 22nd, 2017. IUFRO 125th Anniversary Congress

Freiburg, Germany

The IUFRO 125th Anniversary Congress, which will take place at the Konzerthaus in Freiburg, Baden-Württemberg, Germany, from 19 to 22 September 2017.

Follow link for more information

Kumpulan acara...