Cooperation - Republic of Indonesia and Federal Republic of Germany

Publikasi baru FORCLIME: "Pengembangan Model Biomasa Permukaan di Kalimantan berdasarkan LiDAR"

LiDAR Report

FORCLIME menerbitkan publikasi baru: Pengembangan Model Biomassa Permukaan Menggunakan LiDAR di Kalimantan. Publikasi ini merupakan salah satu dukungan FORCLIME terkait dengan kegiatan demonstrasi REDD+, membantu pengambil keputusan dengan pengalaman bagaimana REDD+ dapat diimplementasikan "di lapangan". Tingkat emisi referensi hutan (Forest Reference Emission Level - FREL) adalah patokan untuk menilai kinerja suatu wilayah atau negara dalam melaksanakan kegiatan REDD+. FORCLIME mendukung tiga kabupaten di Kalimantan dalam mengembangkan FREL, yaitu Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Berau (Kalimantan Timur) dan Malinau (Kalimantan Utara).

Salah satu parameter yang dibutuhkan untuk mengembangkan FREL adalah faktor emisi untuk mengukur hilangnya karbon dalam kasus degradasi atau deforestasi. Karena karakteristik yang sangat spesifik dari ekosistem hutan di berbagai wilayah, oleh karenanya stok karbon sangat bervariasi. Sehingga adalah wajar untuk mengembangkan faktor emisi lokal eksplisit, seperti sejauh hutan mereka dikategorikan sebagai jenis hutan yang sama dalam sistem nasional. Untuk meningkatkan akurasi pengukuran karbon hutan di masa depan, FORCLIME telah mengembangkan faktor emisi lokal eksplisit untuk biomassa di atas tanah (AGB) di tiga kabupaten percontohan berdasarkan data yang diambil dengan Light Detection And Ranging (LIDAR) sensor.

Publikasi dapat diunduh di sini

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Stephanie Wegscheider, Adviser bidang GIS dan Remote Sensing

Monitoring dan evaluasi program Bakti Rimbawan di KPH Kapuas Hulu

Monitoring bakti rimbawan

Untuk mengetahui perkembangan program Bakti Rimbawan, Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Pusrenbang SDM – KLHK) bekerja sama dengan FORCLIME melakukan monitoring di 10 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) selama Agustus sampai dengan bulan September 2016. Salah satu KPH yang dikunjungi adalah KPH Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, yang menampung 12 orang melalui program Bakti Rimbawan.

Program Bakti Rimbawan, yang telah diterapkan KLHK sejak tahun 2014, menempatkan tenaga sarjana dan alumni Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan di kantor KPH. Program ini dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme rimbawan muda, sekaligus mendukung pengembangan program KPH di lapangan.

Kepala KPH Kapuas Hulu mengatakan bahwa tenaga Bakti Rimbawan yang jumlahnya mencapai 40% dari karyawan KPH Kapuas Hulu, mempunyai kompetensi yang cukup baik sehingga mereka menjadi “engine” untuk implementasi program di KPH Kapuas Hulu. “Saya berharap program ini tetap berlanjut agar implementasi program KPH Kapuas Hulu bisa berjalan dengan lancar”, tambahnya.

Untuk informasi yang lebih lanjut, silakan hubungi:

Edy Marbyanto, Manager bidang Strategis, Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia

Program Bakti Rimbawan, yang telah diterapkan KLHK sejak tahun 2014, menempatkan tenaga sarjana dan alumni Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan di kantor KPH. Program ini dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme rimbawan muda, sekaligus mendukung pengembangan program KPH di lapangan.

FORCLIME dan mitra Indonesia fasilitasi pelatihan METT bagi rimbawan di Sabah, Malaysia

METT training

Sejak 2010 FORCLIME telah terlibat dalam Heart of Borneo (HoB) Initiative, inisiatif tiga negara di pulau Kalimantan: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Inisiatif ini mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati, pembangunan berkelanjutan dan peningkatan penghidupan masyarakat yang tinggal di kawasan HoB, khususnya masyarakat miskin dan perempuan.

Berbagi pengalaman dalam praktik kegiatan terkait dengan konservasi dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan masyarakat merupakan strategi utama untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam pengelolaan sumber daya alam di suatu wilayah. Dalam konteks ini, fasilitator FORCLIME dan Direktorat Kawasan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesa yang sudah mendapatkan pelatihan mengenai Management Effectiveness Tracking Tools (METT) menyelenggarakan pelatihan kepada 23 mitra rimbawan di Sabah, Malaysia pada tanggal 21-25 September 2016. Peserta pelatihan merupakan perwakilan dari Departemen Kehutanan Sabah, Departemen Satwa Liar Sabah, Yayasan Sabah, Sabah Environmental Trust, dan WWF Malaysia. Kegiatan ini didanai oleh WWF Malaysia.

METT dapat membantu pihak pengelola kawasan lindung untuk menilai seberapa efektif kawasan lindung dikelola, dan apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan kondisi yang ada. Sebagai alat manajemen, METT terdiri dari enam unsur, yaitu: konteks, perencanaan, masukan, proses, hasil. Analisis ancaman juga merupakan bagian dari alat ini, yang dilakukan sebagai langkah kedua setelah penilaian informasi umum kawasan lindung.

Penyampaian materi pelatihan dilakukan secara kombinasi mulai dari kuliah, diskusi kelompok, dan kunjungan lapangan ke Taman Nasional Kinabalu serta lokasi proyek ECOLINC di zona penyangga Taman Nasional Kinabalu. Metoda ini dilakukan untuk membantu peserta dalam mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang penerapan METT.

Peserta mengatakan bahwa melalui metode penyampaian materi yang dilakukan telah berhasil dan memenuhi harapan mereka. Beberapa peserta akan menerapkan METT untuk membantu meningkatkan pengelolaan wilayah konservasi yang menjadi otoritasnya.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Ismet Khaeruddin, Manajer bidang strategis, Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Kawasan Lindung

Berita

Kumpulan berita...

Acara Mendatang

6-17 November 2017. UNFCCC COP 23

Bonn, Nordrhein-Westfalen, Germany

The 23rd session of the Conference of the Parties (COP 23) to the UN Convention on Climate Change (UNFCCC) will be organized by Fiji and hosted at the headquarters of the UNFCCC secretariat in Bonn, Germany.

Selengkapnya...

Kumpulan acara...