Cooperation - Republic of Indonesia and Federal Republic of Germany

Dialog tentang Kesatuan Pengelolaan Hutan antara ahli kehutanan Jerman dan Indonesia

Expert dialogue Hessen

Sebagai bagian dari komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+), Indonesia juga telah membentuk Badan REDD+. Membangun unit pengelolaan hutan permanen (KPH) diharapkan menjadi prasyarat untuk pengelolaan hutan yang efisien, pembangunan berkelanjutan dan akhirnya REDD+ karena kegiatan-kegiatan tersebut akan mengurangi deforestasi dan degradasi hutan yang tidak terencana dan juga akan membantu keberhasilan upaya rehabilitasi dan restorasi. Karena program desentralisasi di Indonesia, pembangunan KPH akan efektif bila dengan komitmen dan pemahaman pemerintah provinsi dan kabupaten.

Dengan latar belakang ini GIZ didukung oleh Hessen-Forst Consulting telah melakukan dialog terkait dengan pengelolaan hutan lestari dan perubahan iklim. Dialog yang berlangsung selama seminggu, 13 - 20 September, melibatkan pejabat pemerintah dan ahli kehutanan dari provinsi-provinsi dan kabupaten di Indonesia yang kaya hutan, serta pejabat kehutanan dari Negara Federal Hesse, Jerman. Adanya dialog ini memungkinkan pertukaran informasi mengenai peran dan struktur administrasi pengelolaan hutan untuk pembangunan berkelanjutan di tingkat subnasional antara rimbawan Jerman dari Kementerian Lingkungan Hidup Hessian, Hessen-Forst dan rimbawan Indonesia. Kegiatan dialog juga meliputi pertemuan dan kunjungan lapangan ke:
• Hessian Perencanaan Hutan dan Badan Inventarisasi (FENA) di Giessen
• Hessian Kementerian Lingkungan Hidup, Iklim, Pertanian dan Perlindungan Konsumen (HMUKELV) di Wiesbaden:
• BMZ, GIZ, KfW
• Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Herborn
• Bupati Kabupaten Lahn Dill dan Walikota Herborn dan Dillenburg
• UNESCO-Biosphere Reserve Rhön Kantor Hesse, Wasserkuppe
• Bupati Kabupaten Fulda

Hadir dalam dialog tersebut adalah perwakilan Badan REDD+, Kementerian Kehutanan, BAPPENAS, UN-ORCID, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Selatan dan Sulawesi Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, Murung Raya, Kutai Kartanegara, Donggala, Tojo-Una-Una, Merangin, Tebo, Sijunjung, Solok Selatan dan Muara Enim.
 
Peserta telah mengenal administrasi Jerman hutan dan sistem manajemen di Negara Federal Hesse serta kerja sama bilateral Jerman terkait dengan REDD+. Mereka dapat mentransfer pembelajaran yang didapat, misalnya terkait dengan persyaratan administrasi, manajerial dan teknis untuk pengelolaan hutan lestari (termasuk pemantauan hutan dan karbon/MRV) kepada rekan kerjanya utnuk mempromosikan reformasi sektor kehutanan (pembangunan KPH) dan mitigasi perubahan iklim (REDD+) di tingkat provinsi dan kabupaten.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat https://wordpress.com/post/17962000/602

Mematahkan mitos panen madu siang hari

Panen madu hutan berau

Madu hutan alam merupakan hasil hutan bukan kayu yang potensial di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat.  Jenis madu ini dihasilkan oleh lebah Apis dorsata,  yang banyak ditemukan pada pohon Banggeris Hutan (Koompassia sp), Beringin (Ficus sp), dan Meranti (Shorea sp). Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar wilayah KPHP Berau Barat mengambil madu hutan ini untuk dijual di pasar lokal sebagai tambahan pendapatan rumah tangga.

Selama ini masyarakat lokal memanen madu hutan alam pada malam hari karena lebah tidak dapat melihat di kegelapan. Mereka menggunakan api dan asap untuk mengusir lebah dari sarangnya. Pengelolaan pasca panen yang dilakukan masyarakat masih dengan cara diperas, yang dapat menurunkan kualitas madu.

Dengan tujuan untuk dapat memanen madu hutan secara lestari, KPHP Berau Barat bekerja sama dengan GIZ FORCLIME dan Jaringan Madu Hutan Indonesia mengadakan pelatihan Panen Madu Lestari di Kampung Muara Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau pada tanggal 1 sampai dengan 4 September 2014. Pelatihan diikuti oleh 40 orang yang berasal dari tujuh kampung penghasil yang berada di dalam dan sekitar wilayah KPHP Berau Barat. Pelatih adalah kelompok petani madu yang didatangkan dari Tesso Nilo, Riau, Sumatera. Mereka khusus diundang untuk memberikan pelatihan kepada petani madu di Berau.

Peserta pelatihan sangat antusias mengikuti pelatihan ini terutama pada saat pemanjat madu dari Tesso Nilo, bapak Japri dan bapak Ramli, memperagakan cara memanjat pohon untuk memanen madu secara lestari. Keahlian ini dipelajari para peserta dan akan dipraktekkan di kampung mereka masing-masing. Pembelajaran yang diberikan kepada peserta juga termasuk pengambilan sarang secara lestari, produk lebah selain madu, cara penyaringan, pengolahan pasca panen, dan pengepakan. Selain itu, peserta juga diberi pengetahuan terkait dengan kelembagaan kelompok petani madu hutan.  

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini KPHP Berau Barat akan menyusun perencanaan menyeluruh mengenai pengembangan madu hutan di wilayahnya agar memiliki langkah dan tahapan yang jelas.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Ali Mustofa, Adviser Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM)

Pemanfaatan HHBK melalui introduksi budidaya lebah Trigona Sp di KPH Berau Barat

Trigona bee

Salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang menjadi primadona adalah madu alam karena permintaan terhadap madu alam terbilang tinggi. Tetapi saat ini keberadaan madu alam  mengalami penurunan produksi tiap tahunnya. Dalam situasi seperti ini, muncul ide untuk mengembangkan budidaya madu lebah Trigona Sp. Lebah jenis Trigona sp adalah lebah kecil menyerupai lalat yang dapat menghasilkan madu dan propolis. Lebah  madu  ini berbeda dengan lebah lainnya, tidak memiliki  sengat. Untuk mempertahankan diri  lebah  ini  memproduksi  propolis, yang juga bernilai pasar.

Beberapa kemudahan budidaya Trigona Sp dibanding lebah lainnya antara lain: tidak perlu dipelihara, tidak perlu digembala, tidak perlu peralatan khusus, tidak perlu takut disengat, kemudahan pengembangan koloni, produktivitas propolis lebih tinggi, tahan hama penyakit, bisa panen sepanjang waktu.

Melihat banyaknya kelebihan tersebut, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Berau Barat, Kalimantan Timur didukung oleh GIZ FORCLIME mengadakan kegiatan inventarisasi dan sosialisasi mengenai budidaya lebah Trigona Sp kepada masyarakat di desa-desa sekitar KPH pada tanggal 23 – 28 Juni 2014. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan identifikasi dan penelitian pemanfaatan jenis lebah ini  (lebah kelulut) sebagai bahan obat dan menjaga kesehatan, serta meningkatkan mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan. Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi dampak negatif seperti deforestasi dan degradasi hutan yang disebabkan oleh kebutuhan ekonomi.

Dalam kegiatan ini dilakukan praktek pembuatan ‘stub’ (kotak sarang Trigona) dan langsung memindahkan telur dan sarang dari alam ke dalam sarang buatan. Kemudian sarang-sarang buatan tersebut dibagikan kepada desa-desa yang berada di sekitar wilayah KPH Berau Barat (Muara Lesan, Long Beliu, Sidobangen, Merasa).

Kepala KPH Berau Barat, Hamzah, sangat mengapresiasi inisiatif budidaya lebah kelulut ini karena lebih memudahkan masyarakat untuk mendapatkan madunya, dibandingkan dengan pemanenan madu alam yang biasanya memiliki resiko tinggi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa KPH Berau Barat siap untuk mengembangkan inisiatif ini di desa-desa lain.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Ali Mustofa, Thematic Leader of Community Empowerment

Berita

Kumpulan berita...

Acara Mendatang

23–24 January 2018. International Symposium on the Promotion of Deforestation-Free Global Supply Chains for Contributing to Halt Deforestation

Mita Hall, Tokyo, Japan

The objective of the event is to inform participants on the status of the implementation New York [2015] global zero deforestation commitments, to facilitate wider publication of good practices including by private sector...

Selengkapnya...


20 - 22 Feb 2018. International Conference Working across Sectors to Halt Deforestation and Increase Forest Area – from Aspiration to Action

 

FAO Headquarters, Rome

This international conference, organized by the Collaborative Partnership on Forests, will bring together a wide range of stakeholders to discuss the challenges of halting and reversing deforestation and to jointly...

Selengkapnya...

Kumpulan acara...