Cooperation - Republic of Indonesia and Federal Republic of Germany

Pemangku kepentingan kehutanan belajar tentang potensi energi terbarukan dari biomassa

Travelling workshop

Pengembangan energi terbarukan merupakan salah satu prioritas kebijakan energi Indonesia untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak mentah. Di antara berbagai sumber energi terbarukan, biofuel dan biomassa memiliki potensi untuk menggantikan bahan bakar fosil dan memasok bahan baku untuk konversi energi. Sumber daya penghasil energy terbarukan tersebar di seluruh negeri. Di Indonesia, energi terbarukan berbasis biomassa terdiri berbagai ukuran kayu dari hutan (yaitu hutan alam, hutan tanaman dan hutan rakyat yang umumnya menghasilkan kayu yang berdiameter kecil yang digunakan sebagai kayu bakar oleh masyarakat setempat), residu kayu dari penebangan dan industri kayu, limbah cangkang kelapa sawit dari pabrik minyak mentah kelapa sawit, limbah tempurung kelapa dari perkebunan kelapa, serta minyak kelapa skim dan jerami dari budidaya padi.

Untuk mendukung kebijakan Pemerintah Indonesia mengenai energi terbarukan, dan untuk menindaklanjuti Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara Kementerian Kehutanan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, FORCLIME bekerja sama dengan Kelompok Kerja Perubahan Iklim (Pokja PI) di Kementerian Kehutanan melakukan sebuah "Lokakarya Keliling mengenai Pengembangan Bioenergi" dari 23-26 September 2014. 21 peserta yang merupakan perwakilan dari Kementerian Kehutanan, Pemda kabupaten lokasi percontohan FORCLIME di Kalimantan (Bappeda, Dinas Kehutanan dan Kesatuan Pengelolaan Hutan – KPH - di tiga Kabupaten: Berau, Malinau dan Kapuas Hulu), KPH Sulawesi Tenggara , perusahaan swasta dan Sekretariat Pokja PI mengikuti lokakarya ini. Peserta berkeliling mulai dari Yogyakarta (pengolahan Nyamplung untuk biofuel) ke Bali (bambu/limbah yang direncanakan untuk pembangkit tenaga listrik), dan Madura (industri pelet kayu dan pengelolaan semak belukar masyarakat untuk memasok kayu pabrik pelet).

Para peserta mendapat banyak wawasan dari kunjungan lapangan, misalnya sistem pengelolaan hutan lestari berbasis bioenergi sebagai sumber pendapatan potensial bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Berbagi informasi di antara para peserta juga menambah pengetahuan dan persepsi mereka tentang produk dan jasa yang dapat diperolah dari hutan. Contoh praktik terbaik dari lapangan telah membuktikan kelayakan untuk operasionalisasi di Kesatuan Pengelolaan Hutan.Beberapa peserta dari sektor publik dan swasta melakukan kesepakatan informal tentang bagaimana mengembangkan inisiatif berbasis bioenergi yang secara operasional dapat dilakukan untuk pengelolaan dan pengembangan KPH.
 
Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat pada tautan ini
atau hubungi Dr. Pipin Permadi, Senior Adviser for Forest Policy

Peluncuran Pelaksanaan E-Learning di PUSDIKLAT

DSC 0988 e-learning workshop

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan (Pusdiklat Kehutanan) memasuki dunia E-Learning dengan antusiasme yang besar dan motivasi. "Melebihi harapan saya" kata Kepala Pusdiklat Kehutanan, Dr. Agus Justianto, pada acara Lokakarya Peluncuran E-Learning di Pusdiklat, yang diselenggarakan atas kerja sama dengan FORCLIME.

Lokakarya, yang diselenggarakan pada 23 dan 24 September, didukung oleh Elke Wemhoff dari GIZ E-Academy dan dua konsultan E-Learning lainnya. Dasar dari penyelenggaraan lokakarya ini adalah penilaian hasil analisis atas kesiapan teknis serta kondisi umum untuk pengenalan E-Learning yang dibarengi dengan pelatihan. Setelah melalui diskusi dengan manajemen, instruktur pelatihan dan staf dari Pusdiklat serta Balai Diklat Kehutanan (BDK) dan Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan menjadi jelas bahwa kebutuhan untuk menggunakan E-Learning sangat besar dan untuk pelatihan mendatang akan difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia untuk memperkuat Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), yang juga akan menjadi ujicoba pelaksanaan E-learning pertama.

"Berpikir besar, memulai dari yang kecil" adalah motto bagi sekitar 50 peserta lokakarya untuk mengembangkan strategi E-Learning dan mengidentifikasi pelatihan percontohan. Telah sepakati bahwa desain E-Learning tampaknya menjadi solusi yang tepat untuk melatih 41.800 staf KPH di masa depan, yang merupakan salah satu indikator kinerja utama yang ingin dicapai Pusdiklat Kehutanan dalam lima tahun ke depan. Diskusi mengenai visi dan tujuan menunjukkan bahwa percontohan ini harus diikuti dengan kegiatan pengembangan E-Learning lebih lanjut. Dengan demikian, tujuan lokakarya juga merupakan titik awal untuk membangun kompetensi E-Learning di antara staf. Para peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk penyajian E-Learning, pelajaran mengenai sistem manajemen dan perlengkapan authoring untuk merancang pelatihan E-Learning. Tantangan dan manfaat dianalisis termasuk alur proses yang diperlukan, alur kerja dan tugas untuk dapat menyelenggarakan E-Learning dengan baik.

Dalam lokakarya ini juga hadir perwakilan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN), Kementerian Keuangan (BPKP) dan Pudiklat Kehutanan Provinsi Jawa Timur, yang memberikan pengalaman positif mereka dengan E-Learning sebagai aset pelengkap tatap muka pelatihan konvensional. Peserta juga menyadari bahwa E-Learning membutuhkan motivasi untuk belajar mandiri, yang berarti pelatih juga perlu kapasitas untuk menciptakan materi E-Learning interaktif dan menarik, berbeda dengan bahan bacaan 'konvensional'.

Tidak lanjut untuk pelaksanaan E-Learning di Pusdiklat Kehutanan adalah pertemuan khusus pada akhir Oktober. Pertemuan ini akan menentukan kegiatan-kegiatan untuk melatih para pelatih terpilih dan staf Pusdiklat dan BDK tentang bagaimana menyusun bahan E-Learning dan mengompilasikannya ke dalam suatu pelatihan serta mengintegrasikannya ke dalam sistem manajemen pembelajaran. Kompetensi ini akan langsung diterapkan untuk merancang program E-Learning untuk staf KPH - "untuk membuat mimpi E-Learning menjadi nyata atau, lebih baik, digital".

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Edy Marbyanto, Strategic Area Manager for Human Capacity Development
Anne-Cathrin Vonarx, Adviser for Human Capacity Development

Pusdiklat Kehutanan Susun Rencana Strategis 2015 - 2019

Workshop Renstra Pusdiklat

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan (Pusat Diklat Kehutanan) bekerja sama dengan GIZ FORCLIME menyelenggarakan Lokakarya Penyusunan Rencana Strategis Pusat Diklat Kehutanan untuk periode 2015 -2019 pada tanggal 22 September 2014.  Rencana strategis yang disusun ini diselaraskan dengan Renstra Kementerian Kehutanan dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sektor Kehutanan.

Pertemuan dihadiri oleh pejabat struktural dan fungsional dari Pusdiklat Kehutanan, Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat Kehutanan, dan Balai Diklat Kehutanan. Selain itu, juga diundang perwakilan dari Lembaga Administrasi Negara, PT. Perhutani dan Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Pusdiklat Kehutanan menyampaikan bahwa ada dua tantangan yang dihadapi dalam pengembangan diklat kehutanan di masa mendatang, yakni: (1) sebagian pengambil keputusan menganggap diklat sebagai suatu “belanja pegawai” bukan sebagai “investasi”; (2) Diklat Kehutanan ditargetkan melatih 41.800 orang selama 5 tahun ke depan, yang merupakan hampir 3 kali lipat dari target selama ini. Oleh karenanya perlu dicari pendekatan dan metode baru agar target tersebut bisa dicapai.

Dari proses diskusi selama pertemuan, muncul beberapa gagasan strategis yang diperlukan untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan di masa mendatang, antara lain: (1) pengembangan e-learning untuk mendukung program klasikal; (2) pengembangan jejaring untuk kerja sama penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; (3) peningkatan kualitas widyaiswara; (4) peningkatan sarana prasarana untuk penyelenggaraan pendididkan dan pelatihan; (5) mendorong perubahan kebijakan dan anggaran agar lebih mendukung penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

Pertemuan ini akan ditindaklanjuti dengan lokakarya lanjutan untuk merumuskan strategi, program dan aktivitas secara lebih detail.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Edy Marbyanto, Strategic Area Manager for Human Capacity Development

Berita

Kumpulan berita...

Acara Mendatang

23–24 January 2018. International Symposium on the Promotion of Deforestation-Free Global Supply Chains for Contributing to Halt Deforestation

Mita Hall, Tokyo, Japan

The objective of the event is to inform participants on the status of the implementation New York [2015] global zero deforestation commitments, to facilitate wider publication of good practices including by private sector...

Selengkapnya...


20 - 22 Feb 2018. International Conference Working across Sectors to Halt Deforestation and Increase Forest Area – from Aspiration to Action

 

FAO Headquarters, Rome

This international conference, organized by the Collaborative Partnership on Forests, will bring together a wide range of stakeholders to discuss the challenges of halting and reversing deforestation and to jointly...

Selengkapnya...

Kumpulan acara...